Thursday, March 18, 2010

John Maxwell

Suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan.
Seperti biasa, Maxwell sang suami duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya.
Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, "Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?"
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus.
Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, "Tidak."

Seluruh ruangan langsung terkejut. "Tidak," katanya sekali lagi,

"John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell.
Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar.
Malu ui! Kemudian, lanjut Margaret, "John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik.
Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.."

Tiba-tiba ada suara bertanya, "Mengapa?" "Karena," jawabnya, "tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri."
Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.

Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih.
Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar. Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, atau sesukses apa hidupmu.

Bahagia adalah pilihanmu sendiri!

Monday, March 15, 2010

Kasih Sayang

Berikut ada kisah menarik dari tulisan George W Burns (psikoterapist) yang saya forward dan mudah2an bisa jadi perenungan dan pencerahan bagi kita semua

Pada suatu ketika, ada sebuah pulau yang dihuni oleh semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia, dan lama sekali sebelum kita mengotak-ngotakkannya kedalam istilah baik atau buruk. Pokoknya mereka ada, dengan ciri-cirinya sendiri.

Bahkan sifat-sifat tersebut berdiri sendiri sebagaimana manusia.
Mungkin itu sebabnya pada akhirnya mereka bersatu.
Dipulau tersebut hiduplah Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, dan Kasih Sayang.

Sudah barang tentu sifat-sifat yang lain hidup disana juga. Pada suatu hari dimaklumatkan bahwa pulau tersebut pelan-pelan tenggelam. Ketika sifat-sifat tersebut mendengar berita ini, mereka dilanda kepanikan.
Mereka berlarian kesana kemari seperti semut yang rumahnya diinjak sampai hancur.

Setelah beberapa saat mereka mulai tenang dan merencanakan tindakan positif.
Karena hidup di pulau, kebanyakan dari mereka punya perahu, jadi mereka semua memperbaiki perahu mereka dan mengatur pemberangkatan dari pulau.

Kasih Sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun-tahun yang lalu.
Dia menunda keberangkatannya hingga saat-saat terakhir agar dia bisa membantu orang lain bersiap-siap. Pada akhirnya Kasih Sayang memutuskan bahwa dia harus meminta bantuan.

Kemakmuran baru saja berangkat dari dermaga didepan rumahnya yang besar.
Perahunya besar sekali, lengkap dengan semua teknologi paling mutakhir dan perangkat navigasi. Jika bepergian dengannya sudah pasti perjalanan mereka akan menyenangkan.
"Kemakmuran," panggil Kasih Sayang, "bolehlah aku ikut bersamamu?"
"Tidak bisa," jawab Kemakmuran. "Perahuku sudah penuh.
Berhari-hari kuhabiskan untuk memenuhinya dengan seluruh emas dan perak milikku.
Bahkan hanya tersisa sedikit ruang untuk perabotan antik dan koleksi seni. Tidak ada ruang untukmu disini."

Kasih Sayang memutuskan untuk minta tolong kepada Kesombongan yang sedang lewat didepannya menaiki perahu yang unik dan indah.

"Kesombongan, sudikah engkau menolongku?"
"Maaf, " kata kesombongan. "Aku tidak bisa menolongmu.
Tidakkah kau lihat sendiri? Kamu basah kuyup dan kotor. Coba bayangkan, betapa kotornya dek perahuku yang mengilat ini nanti jika kamu naik."

Lalu Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang berusaha sekuat tenaga mendorong perahunya ke air.
Kasih Sayang meletakkan tangannya ke buritan kapal dan membantu Pesimisme mendorong perahunya.

Pesimisme mengeluh terus menerus. Perahunya terlalu berat, pasirnya terlalu lembut, dan airnya terlalu dingin. Sungguh hari yang tidak tepat untuk melaut.

Peringatan yang diberikan mendadak sekali, dan pulau ini tidak seharusnya tenggelam.
Mengapa semua kesialan ini terjadi padanya? Mungkin dia bukan teman seperjalanan yang menyenangkan.

Situasi Kasih Sayang sudah sangat kepepet.
"Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?"
"Oh, Kasih Sayang, engkau terlalu baik untuk berlayar denganku. Sikapmu yang penuh perhatian bahkan menjadikanku merasa lebih bersalah dan tidak keruan.

Bayangkan, seandainya ada ombak besar yang menghantam perahu kita dan engkau tenggelam. Bagaimana menurutmu perasaanku jika itu terjadi? Tidak, aku tidak bisa mengajakmu."

Salah satu perahu yang dilihat terakhir kali meninggalkan pulau adalah Optimisme. Dia tidak percaya dengan segala omong kosong tentang bencana dan hal-hal buruk, yaitu bahwa pulau ini akan tenggelam. Seseorang akan mampu berbuat sesuatu dan sebelum pulau ini benar-benar tenggelam.

Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme terlalu sibuk menatap kedepan dan memikirkan tujuan berikutnya sehingga dia tidak mendengar.

Kasih Sayang berteriak memanggilnya sekali lagi, tetapi bagi Optimisme tidak ada istilah menoleh kebelakang. Dia sudah meninggalkan masa lalu dibelakang, dan berlayar menuju masa depan.

Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara, "Ayo, naiklah keperahuku."
Kasih Sayang merasa begitu lelah dan letih sehingga dia meringkuk diatas perahu dan langsung tertidur.

Dia tertidur sepanjang perjalanan sampai nakhkoda kapal mengumumkan bahwa mereka telah sampai ditanah kering dan dia bisa turun.
Dia begitu berterimakasih dan gembira karena perjalanannya berjalan aman sehingga dia berterimakasih kepada sang nakhoda dengan hangat, kemudian meloncat kepantai.

Dia melambaikan tangannya ketika pelaut itu meneruskan perjalanannya. Baru pada saat itulah dia sadar kalau lupa menanyakan nama nakhoda itu.

Ketika dipantai dia bertemu dengan Pengetahuan dan bertanya,"Siapa tadi yang menolongku?"

"Itu tadi Waktu"jawab Pengetahuan.

"Waktu?" tanya Kasih Sayang,
"Mengapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan?"

Pengetahuan tersenyum dan menjawab,"Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang."

Wednesday, March 10, 2010

Cinta Tanpa Syarat.....

Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara kakek dan nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."

Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek.

Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. "Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul ‘bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu.

Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi....kosong. Kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek."

Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apapun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."


Sahabat,

Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita.

Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.

Wednesday, March 3, 2010

"Reselfing" Theory

Saya ingin menguraikan sebuah teori baru yang menurut saya unik dan lucu akan tetapi mempunyai efek yang sangat LUAR BIASA! Mungkin jika seorang marketer membaca judul akan mengerutkan dahi. Ya memang hal yang lumrah karena saya menggunakan teori yang umum di dengar dalam dunia marketing yakni "Rebranding"

Sekilas kita membahas tentang "Rebranding". Secara simple "Rebranding" dapat diartikan dengan menghidupkan brand lama atau yang dianggap kuno menjadi lebih modern untuk menghadapi perubahan pasar dan bersaing dalam perbutan pasar dengan para pesaingnya.

Banyak dari segi "Brand" yang dapat dilakukan "Rebranding". Seperti: Brand Personality, Brand Characteristic, brand positioning.

Sekarang kita anggap saja diri kita semua "self" menjadi sebuah merek "brand". Akan lebih baiknya kita melakukan hal yang sama seperti sebuah "brand" yakni dengan melakukan "Reselfing".

"Reselfing" merpakan sebuah teori yang mana saya katakan tidak merubah diri kita secara totalitas, karena memang hal-hal positif yang sudah ada tidak perlu diubah akan tetapi tentu lebih baik untuk lebih dikembangkan.

Sama halnya dengan sebuah "brand" banyak sekali elemen-elemen yang harus diperhatikan. Dengan mudahnya saya hanya mengganti kata brand menjadi self:
- Self Personality
- Self Characteristic
- Self Positioning

Secara mudah saya beri saja contoh. Mengapa orang melakukan diet? Mengapa orang mengikuti sekolah kepribadian? sepeti inilah contoh mudahnya. Mungkin mereka diet dengan karena mereka sulit mendapatkan pasangan hidup sehingga mereka melakukan diet agar dapat lebih mudah mendapatkan pasangan. Ini contoh dari "Reselfing"

Ada cara untuk membantu anda dalam melakukan "Reselfing", tetap dengan teori sama dengan "Brand" yakni dengan mencari consumer insight untuk mengetahui ada yang ada di benak konsumen terhadap suatu brand. Jadi kita dapat melakukan hal yang sama mungkin dengan menanyakan pada orang sekitar kita bagaimanakah pendangan mereka terhadap diri kita? atau mungkin juga dengan reaksi yang diberikan orang terhadap sikap atau tindakan kita.

Tujuan utama dalam melakukan "Reselfing" agar kita membentuk sebuah pribadi yang baik. Mungkin yang dulunya ketika berangkat ke kantor mukanya sudah lesu bayangkan jika harus bekerja sampai sore bisa-bisa ketika orang melihat sudah mau marah. hahaha....

Cobalah untuk membentuk sebuah diri baru sehingga akan terbentuk sebuah bentuk dunia baru yang lebih baik dalam pikiran kita. Perubahan kerap kali terjadi sehingga diri kitapun lebih baik ikut berubah sesuai dengan berubahan yang ada. Karena kita juga bersaing dengan diri kita sendiri semakin baik kepribadian, karaktesitik, dan positioning kita terhadap orang lain. Maka akan menentukan juga seberapa sukses kita diterima dalam masyarakat.

Sebuah Teori sederhana semoga sangat berguna..

Salam

Wednesday, February 24, 2010

The Mayonaise Jar‏

Bila hal dalam hidupmu terlalu banyak untuk kamu tangani

Bila waktu 24 jam tidaklah cukup

Ingatlah toples mayonise dan 2 gelas kopi


Seorang Profesor berdiri sebelum kelas filosofinya

Dan dengan beberapa benda di depannya,

Ketika kelas akan di mulai, tanpa suara

Di mengambil toples kosong mayonise yang sangat besar

Dan mengisinya dengan bola golf

Lalu dia bertanya kepada muridnya, apakah toples itu sudah penuh

Dan mereka sepakat bahwa toples itu penuh


Lalu professor tersebut mengambil kelereng dan menuangkannya

Kedalam toples tersebut, dan mengguncangkan dengan pelan

Kelereng tersebut menggelinding mengisi ruang kosong diantara bola golf


Lalu dia bertanya kembali kepada muridnya, apakah toples tersebut telah penuh?
Dan mereka sepakat bahwa toples itu penuh


Selanjutnya, professor tersebut mengambil satu kotak pasir dan menuangkannya kedalam toples

Tentu saja, pasir tersebut mengisi ruang yang kosong

Dia bertanya sekali lagi apakah toples tersebut sudah penuh, para murid merespon dengan suara bulat “ya”


Lalu professor tersebut mengambil dua gelas kopi dari bawah meja, dan menuangkan seluruhnya kedalam toples

Mengisi tempat yang kosong diantara pasir, para murid pun tertawa


“Sekarang” kata professor tersebut setelah mereka berhenti tertawa


Saya ingin kamu menganggap toples ini sebagai hidup kamu.


Bola Golf melambangkan hal-hal yang penting, Keluarga, Anak, kesehatan, teman dan hasrat favoritmu, hal yang bila semua nya hilang dan hanya ini yang masih tertinggal, hidup kamu akan tetap penuh/lengkap


Kelereng melambangkan hal lainnya yang berarti, seperti pekerjaan, rumah dan mobil


Pasir melambangkan hal lainnya – hal yang kecil


Bila kamu menempatkan pasir dahulu kedalam toples “ dia melanjutkan

Tidak akan ada ruang untuk kelereng ataupun bola golf

Ini berlaku juga di dalam hidup


Bila kamu menghabiskan waktu dan energi untuk hal kecil

kamu tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting



Jadi


Berilah perhatian terhadap hal yang penting untuk kebahagiaan mu

Bermain dengan anakmu


Luangkan waktu untuk pemeriksaan kesehatan

Bawa pasangan mu makan malam diluar.


Pasti masih akan ada waktu untuk membersihkan rumah dan memperbaiki tempat pembuangan.


Uruslah bola golf terlebih dahulu

Hal hal yang benar berarti

Tentukan prioritasmu, yang lain hanyalah pasir



Salah satu murid mengangkat tangannya, dan menanyakan , kopi melambangkan apa?


Profesor itu tersenyum
“Saya lega kamu bertanya”


Itu hanya menunjukan, sepenuh apapun kelihatannya hidupmu

Selalu ada tempat untukmenikmati dua gelas kopi dengan teman



Bagilah cerita ini dengan “Bola Golf” lainnya

Salam

Wednesday, February 17, 2010

The Power of Goals

Goals bukanlah sekedar mimpi indah, goals adalah cita-cita yang harus disertai tindakan-tindakan yang jelas untuk mencapainya. Goals adalah mimpi yang mempunyai batasan waktu (deadline)

Earl Nigthingale mangungkapkan arti kesuksesan uyang diartikan dalam bentuk goal," Sukses adalah usaha mewujudkan pencapaian sebuah tujuan yang berharga." Tujuan goals agar kita dapat fokus terhadap apa yang kita inginkan.

Apakah goals itu penting?
Saya ilustrasikan David Beckham dikenal dengan kepiawaiannya dalam melakukan tendangan bebas dan dapat diselesaikan dengan sempurna. Bagaimana bila mata dari David Beckham ditutup dan kemudian diputar 5 kali. Dapatkah ia mencetak gol? Tentu tidak karena ia tidak dapat melihat targetnya dengan jelas. Kemampuan untuk menentukan target dan membuat perencanaan untuk mencapainya adalah keterampilan utama untuk mencapai sukses.

Banyak sekali orang yang memiliki goal dalam hidupnya. Akan tetapi mengapa tidak semua orang dapat mencapai goalnya dengan baik?
Goals anda belumlah sempurna jika tidak mencakup semua unsur S.M.A.R.T

S-Specific:memiliki goals yang spesifik
M-Measureable: Memiliki goals yang terukur
A-Achieveable: Memiliki goals yang dapat dicapai
R-Realistic:Memiliki goals yang realistis
T-Timebound: Mempunyai batasan waktu untuk mencapai goals

Sebelum anda menyusun Goals ke depan anda, baik untuk 5 tahun lagi ataupun 10 tahun lagi. Satu hal yang mau saya tanyakan kepada anda. Di manakah posisi anda sekarang? contoh: Jika anda adalah seorang sales tanyakan berapa income anda, bagaimana prestasi penjualan anda, bagaimana unit atau volume penjualan anda setiap bulannya. Pertanyaan ini sangatlah penting karena dari situlah kita akan berangkat menuju goals kita.

Satu hal yang penting "Pastikan bahwa goals yang anda susun adalah suatu hal yang benar-benar anda inginkan, bukan merupakan sesuatu yang hanya terdengar indah."


Selamat menyusun goals anda.


Salam.

Tuesday, February 16, 2010

Garam dan Telaga

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Justify Full
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.

"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".

"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu."

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.